© WWF-Indonesia/Saipul Siagian
Dengan 3.200 individu yang tersisa di alam liar, populasi harimau dunia saat ini berada di titik nadir. Untuk mencegah kepunahan spesies ini, negara yang memiliki habitat asli harimau seperti Indonesia telah membuat sejumlah inisiatif, kerjasama dan peningkatan dibidang hukum yang akan dibawa pada Forum Harimau Internasional, 21-24 November di St. Petersburg, Russia. Forum ini diharapkan menjadi kesempatan Indonesia untuk menunjukkan komitmen dan upayanya dalam mencegah terus menurunnya populasi harimau Sumatera di negara tersebut.
Forum ini adalah pertemuan internasional yang melibatkan pejabat tinggi pemerintahan dari negara habitat harimau beserta mitra nasional dan internasional mereka. Pada kesempatan tersebut akan dibuat deklarasi mengenai konservasi harimau dan program pelestarian harimau global yang diharapkan akan direalisasikan sebagai kebijakan dan langkah nyata di setiap negara. Memasuki pertengahan akhir Tahun Harimau dipenanggalan Cina, upaya-upaya yang telah dilakukan oleh negara-negara habitat asli harimau mampu memberikan kemajuan bagi pelestarian ikon global yang elok, kuat, dan misterius ini.
“Banyak target yang berhasil kita capai tahun ini,” ungkap Mike Baltzer, ketua Tigers Alive Initative WWF, “tapi kami berharap dapat mencapai sejumlah target konservasi lainnya setelah Forum Internasional Harimau diadakan. Setelah pertemuan tersebut berakhir, pekerjaan yang sebenarnya baru dimulai. Pemerintah dari negara habitat asli harimau telah menunjukkan itikad mereka untuk mencegah kepunahan harimua, dan kami berharap komitmen tersebut dapat mereka wujudkan menjadi tindakan nyata setelah pertemuan di St. Petersburg tersebut. WWF berkomitmen untuk mendukung aksi dan kebijakan pemerintah yang diumumkan pada forum ini.”
Sejumlah pencapaian yang berhasil diraih oleh Indonesia pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:
- Survei yang dilaksanakan di seluruh pulau Sumatera untuk memperoleh data terkini mengenai populasi dan okupansi harimau.
- Peluncuran Peta Jalan Visi Sumatera, yang berisi rencana aksi pengimplementasian sistem tata ruang berbasis ekosistem untuk melindungi hutan-hutan bernilai konservasi tinggi dan memperbaiki kondisi kawasan-kawasan kritis yang memiliki fungsi jasa lingkungan.
- Peluncuran inisiatif RIMBA. RIMBA merupakan komitmen dari tiga provinsi Sumatera—Riau, Sumatera Barat, Jambi yang mencakup tiga dari enam kawasan prioritas harimau di Sumatera—untuk mengimplementasikan pengelolaan terbaik (best management practice) terkait perencanaan tata ruang yang lestari serta pembangunan rendah karbon.
- Menteri Kehutanan berkomitmen tidak akan adalah konversi hutan perawan dan hutan rawa gambut di Sumatera dalam dua tahun ke depan.
- Sebesar US$ 1 Milyar akan dialokasikan Pemerintah Norwegia untuk REDD+ di Indonesia. Sebagian dari dana ini akan digunakan untuk melestarikan hutan habitat asli harimau di Sumatera.
- Melindungi 7,341,300 hektar hutan di Kawasan Konservasi Harimau di Sumatera.
- Penguatan di bidang hukum terutama dalam penegakan hukum untuk menghentikan perdagangan harimau terutama di kawasan prioritas konservasi harimau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar