Minggu, 26 Desember 2010

Kucing Hutan Sang Kucing Leopard

Kucing hutan yang di Jawa sering disebut sebagai ‘meong congkok’ dan dalam bahasa latin (ilmiah) dinamakan bengalensis, merupakan salah satu spesies kucing liar yang dilindungi di Indonesia.
Kucing hutan atau Prionailurus bengalensis, dalam bahasa Inggris disebut sebagai leopard cat lantaran bulunyanya yang mempunyai totol-totol menyerupai carak kulit macan tutul (leopard) meskipun secara taksonomi keduanya berbeda genus. Kucing hutan bergenus Prionailurus sedang genus macan tutul adalah Panthera.

Kucing hutan ini disebut Leopard Cat (dalam bahasa indonesia dikenal sebagai Blacan) lantaran motif bulunya yang tutul-tutul.
Leopard cat atau kucing hutan mempunyai daerah sebaran yang luas meliputi India, Afghanistan, Nepal, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Cambodia, Thailand, Vietnam, Myanmar, Pilipina, Laos, Malaysia, Singapura, Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sumatera), hingga ke Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Rusia, Taiwan, China, dan Hong Kong.
Habitat kucing hutan bervariasi, meliputi hutan tropis, semak belukar, hutan pinus, semi-gurun, daerah pertanian, hingga daerah bersalju tipis. Kucing yang dilindungi ini mampu hidup dihabitat dengan ketinggian mencapai 3.000 mdpl.
Ukuran tubuh kucing hutan hampir sama dengan kucing-kucing biasa (kucing domestik; Felis silvestris catus). Kucing hutan yang ditemukan di Indonesia memiliki panjang tubuh sekitar 46 cm dengan berat tubuh sekitar 2,2 kg dengan panjang ekor sekitar separo dari panjang tubuhnya.
Warna bulu kucing hutan bervariatif menurut daerah hidupnya. Di saerah selatan termasuk Indonesia cenderung berwarna dasar kuning kecoklatan, tetapi di daerah utara (seperti Rusia dan Jepang) didominasi warna abu-abu-silver. Bulunya halus dan pendek. Warna dasar (kuning kecoklatan atau abu-abu silver) diselingi pola belang-belang hitam dari bagian kepala sampai tengkuk. Sedangkan bulu di daerah bertotol-totol hitam. Pola bulunya yang bertotol-totol ini membuat kucing hutan ini dikenal sebagai leopard cat (kucing macan tutul).
Kucing hutan merupakan binatang nokturnal yang lebih banyak beraktifitas di malam hari termasuk untuk berburu mangsa seperti burung, tikus, bajing, tupai, serangga, ampibi, kelinci, kancil dan binatang kecil lainnya.
Binatang karnivora ini seperti berbagai jenis kucing lainnya merupakan binatang yang sangat pandai memanjat. Bahkan, meski jarang melakukannya, kucing hutan mempunyai kemampuan yang baik dalam berenang.
Subspesies Kucing Hutan. Kucing hutan dulunya dimasukkan dalam genus Felis, bahkan di PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, kucing hutan masih ditulis dengan nama ilmiah Felis bengalensis.

Kucing hutan di Jawa disebut juga meong congkok
Kucing hutan (P. bengalensis) terdiri atas dua subspesies yaitu P. b. bengalensis dan P. b. iriomotensis. Namun Berdasarkan analisis morfologi, Groves (1997) menyarankan untuk membaginya kembali dalam beberapa spesies berbeda sesuai dengan asal daerah atau pulau kucing hutan tersebut.
Beberapa sunspesies tersebut antara lain; Prionailurus bengalensis alleni (China), Prionailurus bengalensis bengalensis (India, Bangladesh, Asia Tenggara daratan, Yunnan), Prionailurus bengalensis borneoensis (Borneo), Prionailurus bengalensis chinensis (China, Taiwan, Filipina), Prionailurus bengalensis euptailurus (Siberia, Mongolia), P.b. heaneyi (Pulau Palawan, Filipina), Prionailurus bengalensis horsfieldi (Himalaya), Prionailurus bengalensis javanensis (Jawa, Indonesia), Prionailurus bengalensis rabori (Filipina), Prionailurus bengalensis sumatranus (Sumatra, Indonesia), Prionailurus bengalensis trevelyani (Pakistan), dan Prionailurus bengalensis iriomotensis (Jepang).
Konservasi Kucing Hutan. Kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dikategorikan dalam status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) oleh IUCN Redlist kecuali untuk subspesies P. b. iriomotensis yang berstatuskan Endangered (Terancam).
Sedangkan oleh CITES, kucing hutan didaftar dalam Apendiks II keculai untuk kucing hutan dari populasi di Bangladesh, India dan Thailand yang dimasukkan dalam daftar Apendiks I. Di berbagai negara, kucing liar bermotif mirif macan tutul ini pun dilindungi oleh hukum negara masing-masing termasuk di Indonesia yang memasukkan binatang ini dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Apalah namanya kucing hutan, meong congkok, leopard cat, kucing macan tutul, ataupun Prionailurus bengalensis yang pasti kucing liar ini telah memilih Indonesia sebagai salah satu habitatnya, so, mari kita lestarikan.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Carnivora; Famili: Felidae; Genus: Prionailurus; Spesies: P. bengalensis; Nama binomial Prionailurus bengalensis ( Kerr , 1792).
Referensi:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/18146/0
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/18151/0
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/136889/0
  • commons.wikimedia.org – wikipedia (gambar)
  • http://alamendah.wordpress.com/2010/09/22/kucing-hutan-sang-kucing-leopard/

Kamis, 09 Desember 2010

WWF Indonesia - Program Pemulihan Harimau Global Disepakati oleh 13 Negara

Dari International Tiger Forum di St. Petersburg, Russia 21-24 Nov 2010

Siaran Pers,
Untuk Disiarkan Segera 24/11/2010 - 10:00 WIB
St Petersburg --
Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan populasi harimau Sumatera menjadi dua kali lipat pada tahun 2022 di enam lansekap prioritas konservasi harimau (Tiger Conservation Landscape/TCL) di Sumatera. Demikian disampaikan Ketua Delegasi Republik Indonesia I Made Subadia Gelgel, yang juga Staf Ahli Kementrian Kehutanan, dalam pertemuan dunia mengenai konservasi harimau “International Tiger Forum” di St. Petersburg, Russia.

“Komitmen ini memungkinkan karena telah ada data dasar yang cukup tentang populasi harimau Sumatera dan berbagai program konservasi juga sudah diimplementasikan di wilayah prioritas konservasi harimau tersebut,“ ungkap I Made Subadia Gelgel.

Enam lansekap prioritas dimaksud mencakup Lansekap Ulu Masen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

Tigabelas negara-negara sebaran harimau (Tiger Range Countries/TRCs), para pakar, lembaga internasional, lembaga donor, media massa dan LSM nasional dan internasional konservasi harimau berkumpul di St. Petersburg Russia dalam “International Tiger Forum” sejak tanggal 21 sd 24 November 2010. Forum ini bertujuan untuk menyepakati dokumen Program Pemulihan Harimau Global (Global Tiger Recovery Program) dan Deklarasi Bersama (The St Petersburg Declaration on Tiger Conservation) yang merupakan kesepakatan antar Negara untuk menghentikan penurunan populasi harimau dunia dan meningkatkan populasinya menjadi dua kali lipat pada tahun 2022, tahun harimau berikutnya.

Dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Russia, Vladimir Putin, Russia menjadi tuan rumah dari pertemuan ini, dan Indonesia merupakan salah satu dari 13 negara sebaran harimau (Tiger Range Countries/ TRCs) yang hadir. Duabelas negara lainnya meliputi Bangladesh, Bhutan, China, India, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, dan Vietnam.

“Meskipun cukup ambisius komitmen menduakalilipatkan populasi harimau di alam bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Contohnya Russia. Dengan dukungan komitmen politis yang tinggi dan implementasi rencana yang baik, Russia berhasil meningkatkan jumlah populasi harimaunya di alam dari hanya sekitar 80-100 individu tahun 60-an menjadi sekitar 500 individu saat ini, kata Dr. Efransjah, CEO WWF Indonesia yang hadir dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, selain komitmen kuat dari masing-masing negara untuk melakukan aksi nyata penyelamatan harimau, mekanisme pendanaan juga menjadi faktor penting yang harus disepakati demi suksesnya implementasi rencana tersebut.
“Pada hari kedua pertemuan (22/11) seluruh negara sebaran harimau sudah menyepakati dokumen Program Pemulihan Harimau Global untuk mendukung konservasi harimau,” kata Dr. Efransjah. “Kemauan politik sudah dibangun dengan baik, akan tetapi mekanisme pendanaan internasional untuk perlindungan harimau melalui implementasi Program Pemulihan Harimau Global juga perlu disepakati untuk suksesnya implementasi rencana ini, ” lanjut Efransjah.

Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut, Delegasi Indonesia telah mengusulkan diadakannya pertemuan lanjutan untuk membahas mekanisme pendanaan.

Dalam presentasi yang dipaparkan, Indonesia juga mengangkat pendekatan tata ruang berbasis ekosistem sebagai salah satu upaya penyelamatan habitat harimau Sumatera. Ekosistem Terpadu RIMBA sebagai model dari pendekatan tata ruang berbasis ekosistem tersebut ( yang merupakan tiga dari enam kawasan prioritas konservasi harimau Sumatera di propinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Barat) juga diangkat sebagai contoh kesiapan Indonesia untuk mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon di wilayah prioritas konservasi harimau Sumatera.

Sejak kemarin (23/11) hingga hari ini (24/11) waktu Russia, pertemuan dijadwalkan akan membahas dan menyepakati Deklarasi Bersama (The St Petersburg Declaration on Tiger Conservation).

Untuk informasi lebih lanjut:
Ir. Made Gelgel MSc, Ketua Delegasi Indonesia di International Tiger Forum telp 079670926590 (di Russia)
Dr Efransjah, CEO WWF-Indonesia +6285880194761 (di Russia)
Nazir Foead : Direktur Kebijakan & Pemberdayaan Masyarakat, WWF-Indonesia , +62 811977604 nfoead@wwf.or.id (di Jakarta)

Catatan Untuk Editor:
Pertemuan di Russia merupakan tindak lanjut proses pertemuan antar negara yang pernah diadakan sebelumnya di Kathmandu, Nepal, Hua-Hin, Thailand, dan Bali, Indonesia. Pertemuan yang diadakan di Kathmandu, Nepal Oktober 2009 menghasilkan rekomendasi 15 aksi global untuk menghentikan laju kepunahan dan memulihkan populasi harimau di dunia beserta komitmen sejumlah negara; sedangkan pertemuan tingkat menteri di Hua-Hin, Thailand “Asian Ministerial Conference on Tiger Conservation” Februari 2010 telah menghasilkan Deklarasi untuk mendukung konservasi harimau dunia dan meningkatkan populasi harimau dunia menjadi dua kali lipat pada tahun 2022, yaitu Tahun Harimau berikutnya. Sedangkan Pertemuan Pre-Tiger Summit di Bali Juli 2010 merupakan menghasilkan draf naskah Program Pemulihan Harimau Global dan Deklarasi Bersama untuk disepakati di Russia.

Saat ini harimau berada pada kondisi kritis. Spesies harimau diseluruh dunia saat ini hanya tersisa sekitar 3200 individu yang meliputi enam sub-spesies yaitu harimau Sumatera, Bengal, Amur, Indochina, Cina Selatan, dan Malaya. Ancaman utama kepunahannya mencakup hilang dan terfragmentasinya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau.

Sub-spesies yang ada di Indonesia, harimau sumatera, dengan populasi sekitar 400 individu, mewakili 12 persen dari total populasi harimau di dunia – kondisi ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau di dunia.

Selasa, 23 November 2010

WWF Indonesia - Youth Tiger Summit 2010 resmi dibuka di Vladivostok

Oleh: Dyah Eka Rini

Pada tanggal 19 November 2010 lalu, International Youth Tiger Forum (Youth Tiger Summit) resmi dibuka oleh Gubernur Provinsi Primorsky, Russia. Upacara pembukaan Youth Tiger Summit yang diadakan di State University of Economy & Service, Vladivostok ini juga dihadiri oleh konsulat jendral beberapa negara seperti India dan Vietnam, juga Direktur Eksekutif WWF-Russia, Igor Chestin.

Masyarakat kota Vladivostok ikut menyambut meriah para delegasi Youth Tiger Summit dibuktikan dengan menyediakan "prasasti" di Pelabuhan Vladivostok untuk seluruh negara kawasan harimau. Setiap negara - termasuk Indonesia - mendapatkan 1 prasasti di lantai pelabuhan, mirip seperti "Hall of Fame" – nya Hollywood.

Amalia Anindia dan Lely Puspitasari mewakili Indonesia dalam pemasangan prasasti tersebut. Mereka merasa bangga sekali bisa menjadi saksi mata peristiwa ini. Vladivostok adalah ibukota Provinsi Primorsky yang juga merupakan ‘rumah’ salah satu sub-species harimau yaitu harimau amur/Siberia. Dengan adanya prasasti ini di Vladivostok, diharapkan bisa menjadi tanda bahwa enam sub-species yang masih ada di 13 negara dapat terus diingat oleh masyarakat luas dan dapat terus dilestarikan.

Senin, 22 November 2010

WWF Indonesia - Konservasi Harimau 2010: Keberhasilan dan Tindak Lanjut Indonesia pada Forum Harimau Internasional

Dengan 3.200 individu yang tersisa di alam liar, populasi harimau dunia saat ini berada di titik nadir. Untuk mencegah kepunahan spesies ini, negara yang memiliki habitat asli harimau seperti Indonesia telah membuat sejumlah inisiatif, kerjasama dan peningkatan dibidang hukum yang akan dibawa pada Forum Harimau Internasional, 21-24 November di St. Petersburg, Russia. Forum ini diharapkan menjadi kesempatan Indonesia untuk menunjukkan komitmen dan upayanya dalam mencegah terus menurunnya populasi harimau Sumatera di negara tersebut.

Forum ini adalah pertemuan internasional yang melibatkan pejabat tinggi pemerintahan dari negara habitat harimau beserta mitra nasional dan internasional mereka. Pada kesempatan tersebut akan dibuat deklarasi mengenai konservasi harimau dan program pelestarian harimau global yang diharapkan akan direalisasikan sebagai kebijakan dan langkah nyata di setiap negara. Memasuki pertengahan akhir Tahun Harimau dipenanggalan Cina, upaya-upaya yang telah dilakukan oleh negara-negara habitat asli harimau mampu memberikan kemajuan bagi pelestarian ikon global yang elok, kuat, dan misterius ini.

“Banyak target yang berhasil kita capai tahun ini,” ungkap Mike Baltzer, ketua Tigers Alive Initative WWF, “tapi kami berharap dapat mencapai sejumlah target konservasi lainnya setelah Forum Internasional Harimau diadakan. Setelah pertemuan tersebut berakhir, pekerjaan yang sebenarnya baru dimulai. Pemerintah dari negara habitat asli harimau telah menunjukkan itikad mereka untuk mencegah kepunahan harimua, dan kami berharap komitmen tersebut dapat mereka wujudkan menjadi tindakan nyata setelah pertemuan di St. Petersburg tersebut. WWF berkomitmen untuk mendukung aksi dan kebijakan pemerintah yang diumumkan pada forum ini.”

Sejumlah pencapaian yang berhasil diraih oleh Indonesia pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:

  • Survei yang dilaksanakan di seluruh pulau Sumatera untuk memperoleh data terkini mengenai populasi dan okupansi harimau.
  • Peluncuran Peta Jalan Visi Sumatera, yang berisi rencana aksi pengimplementasian sistem tata ruang berbasis ekosistem untuk melindungi hutan-hutan bernilai konservasi tinggi dan memperbaiki kondisi kawasan-kawasan kritis yang memiliki fungsi jasa lingkungan.
  • Peluncuran inisiatif RIMBA. RIMBA merupakan komitmen dari tiga provinsi Sumatera—Riau, Sumatera Barat, Jambi yang mencakup tiga dari enam kawasan prioritas harimau di Sumatera—untuk mengimplementasikan pengelolaan terbaik (best management practice) terkait perencanaan tata ruang yang lestari serta pembangunan rendah karbon.
  • Menteri Kehutanan berkomitmen tidak akan adalah konversi hutan perawan dan hutan rawa gambut di Sumatera dalam dua tahun ke depan.
  • Sebesar US$ 1 Milyar akan dialokasikan Pemerintah Norwegia untuk REDD+ di Indonesia. Sebagian dari dana ini akan digunakan untuk melestarikan hutan habitat asli harimau di Sumatera.
WWF mengingatkan seluruh negara habitat asli harimau bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Harimau tidak dapat diselamatkan dari kepunahan tanpa adanya Deklarasi Konservasi Harimau dan Program Pelestarian Harimau Global, serta komitmen tiap negara untuk menggandakan populasi harimau mereka. Secara spesifik, Indonesia dapat berperan secara aktif dalam upaya tersebut dengan cara:
  • Melindungi 7,341,300 hektar hutan di Kawasan Konservasi Harimau di Sumatera.
  • Penguatan di bidang hukum terutama dalam penegakan hukum untuk menghentikan perdagangan harimau terutama di kawasan prioritas konservasi harimau.
“Tahun ini telah menjadi tahun yang baik bagi konservasi harimau di alam,” terang Dr. Efransjah, “namun semua yang telah dicapai akan berkurang artinya apabila Forum Harimau Internasional tidak mendorong Indonesia untuk meningkatkan upaya perlindungannya melalui kemauan keras, rencana terpadu, serta tindakan nyata dan terkoordinir. Kita jangan terlena dengan pencapaian yang telah ada dan harus terus berusaha mencegah penurunan populasi harimau serta menjaga keberadaan spesies berharga ini sebagai bagian dari alam dan keragaman hayati dunia.

Minggu, 24 Oktober 2010

WWF Indonesia - Saatnya Indonesia mengaum!

Melalui aksi global tersebut, setiap staf WWF di seluruh dunia dan publik digerakkan untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap harimau dengan cara “mengaum.” Ekpresi kepedulian publik tersebut akan dihitung dalam petisi WWF yang akan disampaikan kepada 13 pemimpin negara pemilik harimau (Tiger Range Countries-TRCs) di Tiger Summit pada November 2010.

Aksi global tersebut diharapkan mampu mendorong para negosiator Tiger Summit menghasilkan keputusan yang tepat dan memastikan komitmen mereka untuk melipatgandakan populasi harimau alam pada 2022.

“The Tiger Roar Campaign” versi bahsaa dapat diakses di www.wwf.or.id/aummm. Melalui halaman ini, Anda dapat berpartisipasi memberikan “auman” kepedulian Anda melalui beragam cara. Anda dapat melakukannya secara ‘solo’ maupun dalam kelompok.

Partisipan dapat memasukkan gambar mereka saat mengaum atau video “auman” singkat mereka dan menguploadnya di YouTube atau Vimeo, lalu memberikan link video tersebut. Bahkan dengan cara yang sederhana sekalipun, yaitu dengan menuliskan pesan singkat di laman tersebut, Anda juga sudah dapat berpartisipasi pada kampanye ini.

Saatnya ekspresikan kepedulian Anda dengan “mengaum” sekarang!

Minggu, 10 Oktober 2010

Semua Tentang Bebek

Dear Lovely Friends,

Posting gw kali ini mau membahas tempat-tempat favorit untuk wisata kuliner yang menyajikan hidangan daging Bebek sebagai menu utamanya. Berhubung gw doyan banget sama yang namanya bebek, jadi gw mau sharing tempat-tempat di Jakarta yang telah gw kunjungi dan semoga bisa menjadi rekomendasi untuk para pecinta daging bebek.

1. Bebek Blengong On The Road - Kemang, Jakarta Selatan
Ini resto bebek yang paling baru gw kunjungi. Sebuah resto asal Surabaya yang berlokasi di jalan raya Kemang, tepatnya sebelah Bank Mandiri atau di seberang studio cetak foto Adorama.Tempatnya sederhana, nyaman dan bersih. Area parkir lumayan luas dan Parkir Gratis untuk pengunjung. Menu utama yang ditawarkan adalah Bebek Goreng dan Bebek Bakar,sedangkan menu lain yang juga tak kalah seru untuk dicoba adalah Burung Puyuh, Soto Lamongan dan Kerang Hijau saus Tiram. Pertama kali yang gw coba di resto ini adalah Bebek Gorengnya, daging bebek terasa lunak, lembut, gurih dan tidak amis. Sebuah indikasi bahwa sang empunya resto adalah pengolah daging bebek yang mumpuni (ahlinya). Dengan tambahan bumbu kaldu, taburan serundeng, lalapan dan sambal cabe hijau yang pedas menjadikan menu ini sebagai menu khas Bebek Blengong. Dengan harga Rp17.000/potong temen-temen sudah bisa merasakan kenikmatan daging bebek ala Bebek Blengong. Standar harga untuk seporsi bebek+nasi+tempe+minuman hanya Rp25.000. Hal lain yang juga menjadi kelebihan resto ini adalah layanan delivery dan buka 24 jam. Berikut ini preview sajian Bebek Goreng ala Bebek Blengong on the road :
Bebek Goreng ala Bebek Blengong
2. Nasi Bebek Ginyo - Tebet, Jakarta Selatan
 Ini dia resto yang pertama kali bikin gw jadi doyan sama daging bebek. Nasi Bebek Ginyo adalah tempat makan yang menyajikan masakan bebek dengan berbagai variasi dan tipe-nya. Tempat makan yang terletak di Jl. Tebet Utara, Jakarta ini tepat berdiri di depan Nanonine House Tebet. Menu yang tersedia antara lain Bebek cabe hijau, Bebek cabe merah, Bebek kremes dan Bebek bakar. Sedangkan menu pendukung lainnya adalah tahu/tempe bacem, perkedel, kerupuk gendar, sayur asem dan lain-lain. Menu favorit gw disini adalah Bebek cabe hijau, rasa pedasnya sedang, bebeknya empuk dan biasanya ukuran jumbo. Untuk menikmati seporsi hidangan nasi bebek+tempe+lalap+minuman budgetnya berkisar Rp30.000,-. Dijamin temen-temen akan jadikan tempat ini sebagai resto favorit untuk bersantap Bebek. Berikut ini preview resto Bebek Ginyo.
varians menu di resto Bebek Ginyo